Widget HTML Atas

Presiden Dapat Lengser Dari Jabatannya Akibat Datang Ke Kota Kediri? Mitos Atau Fakta?

Presiden Dapat Lengser Dari Jabatannya Akibat Datang Ke Kota Kediri? Mitos Atau Fakta?

Kota Kediri yang terdapat di wilayah Jawa Timur adalah kota dengan seribu sejarah. Kota ini juga menjadi salah satu pusat kota di provinsi Jawa Timur.

Kota indah dan maju menjadi salah satu keunggulan dari kota ini. Selain itu, tempat destinasi yang menarik pun banyak berada di kota ini.

Akan tetapi, dengan beribu-ribu keindahan pada kota ini. Kota Kediri memiliki mitos yang membuat presiden-presiden RI enggan berkunjung ke sana.

Mengapa presiden enggan berkunjung ke kota Kediri?

Kota Kediri di Jawa Timur dianggap angker bagi para Presiden Indonesia yang sedang berkuasa. Hal ini turun temurun saat Indonesia masih berstatus Raja sebagai pemimpin.

Konon katanya, siapapun yang berkunjung ke kota tersebut dipercayai akan lengser dari jabatannya. Hal ini sudah terbukti oleh presiden Soekarno, Habibie, dan juga Gus Dur.

Baca juga: Akibat utang, Timor Leste dapat bangkrut?

Dilansir dari berbagai sumber, mitos keangkeran kota Kediri bagi presiden RI yang sedang berkuasa tak lepas dari cerita sejarah di wilayah tersebut.

Menurut para sejarawan, kabupaten Kediri menjadi kawasan terlarang bagi para pemimpin lantaran adanya kutukan dari raja Kalingga, Kartika Singha. 

Dalam kutukannya itu, Kartieka mengatakan bahwa setiap raja (raja atau jika sekarang adalah presiden) yang tak memiliki hati suci maka akan jatuh atau lengser dari jabatannya.

Akan tetapi, menurut masyarakat kota Kediri tidak sepenuhnya kota Kediri angker bagi para presiden yang datang ke kota ini. Hanya ada beberapa tempat terlarang untuk dilewati. 

Menurut kepercayaan masyarakat, ada beberapa tempat di kota Kediri yang tidak boleh dilewati oleh raja pada masa itu. Yang berarti juga tidak boleh dilewati oleh para presiden sekarang.

Tempat atau wilayah larangan untuk para presiden adalah wilayah Simpang Lima, Jembatan alama, dan yang terakhir Sungai Brantos.

Kepercayaan berdasarkan cerita sejarah itu yang membuat para presiden RI berfikir berulang kali untuk mengunjungi kota Kediri, termasuk Jokowi.

Terlebih lagi karna mitos yang banyak dipercayai orang terbukti adanya dengan dilengserkan nya beberapa presiden RI yang sedang menduduki masa jabatannya.

Fakta atau mitos kota Kediri angker bagi para penguasa?

Banyak orang yang ber berpendapat dan percaya bahwa kota Kediri memang angker bagi para presiden dan raja yang berkuasa. Akan tetapi, stutment itu tidak semua nya sama bagi para sejarawan. 

Banyak yang beranggapan bahwa kota Kediri adalah kota terlarang bagi para presiden dan raja adalah mitos adanya. 

Mereka beranggapan bahwa para presiden yang lengser setelah mengunjungi kota Kediri karna presiden tersebut memiliki masalah internal maupun eksternal.

Sebut saja, Gus Dur yang katanya lengser kata akibat mengunjungi kota Kediri ditepis oleh Gus Barok (adalah budayawan kota Kediri).

"Kalau misalnya presiden lengser usai mengunjungi kota Kediri contohnya Gus Dur, itu tidak benar. Karna Gus Dur lengser akibat trik lawan politiknya."

" Itu tertuang dan terbukti tertuang dalam buku soal Gus Dur yang diterbitkan pada tahun 2019." Kata pria yang juga dosen fakultas dakwah institut agama Islam tribakti Lirboyo Kediri, Senin (17/2/2020).

Hal ini pun pernah diungkapkan oleh Gus Dur sendiri pada acara Talk Show. Menurut Gus Dur, ia lengser akibat lawan politiknya yang juga musuh dalam selimut dalam kabinet kepresidenan nya.

Setelah Gus Dur dilengserkan kepercayaan terhadap mitos ini semakin berkurang dan mereda. Banyak orang yang mulai tidak mempercayai akan mitos tersebut.

Akan tetapi, mitos ini kembali ramai diperbincangkan setelah sekretaris kabinet (Seskab), Pranowo Anung menyarankan presiden Joko Widodo untuk tidak hadir ke kota Kediri dalam rangka meresmikan bandar udara.

Ia khawatir jika kejadian pada beberapa presiden RI sebelum dirinya terulang kembali padanya. Ia pun menyarankan, jika yang datang ke kota Kediri adalah wakilnya atau Mentri saja.


Tampaknya memang mitos ini belum ada yang bisa membenarkan nya. Sebagian beranggapan bahwa mitos ini benar adanya, dan juga sebagian beranggapan sebaliknya.

Kalau kalian bagaimana? Percaya atau tidak percaya yang pasti kita tidak boleh terlalu over dalam masalah ini, karna nantinya akan berdampak buruk bagi kita dan yang lainnya.

Berlangganan via Email